Terjebak Longsor Setelah 12 Hari Terjebak Longsor, Warga Terpencil di Lebong Bengkulu Akhirnya Terima Bantuan Alat Manual
Gunung Sitoli News — Terjebak Longsor Setelah dua belas hari terisolasi akibat bencana longsor yang memutus akses jalan utama, warga di wilayah terpencil Desa Bioa Putiak, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Bengkulu akhirnya menerima bantuan logistik—bukan berupa makanan atau tenda, melainkan puluhan sekop, cangkul, dan selang air.
Bantuan alat manual ini dikirim oleh tim gabungan pemerintah daerah dan relawan sebagai solusi darurat bagi warga yang selama hampir dua pekan hanya mengandalkan tenaga sendiri untuk membuka akses jalan yang tertutup material longsor.
Alat Manual Jadi Harapan di Tengah Keterbatasan
Kondisi geografis wilayah Lebong yang berbukit dan sulit dijangkau menyebabkan alat berat tidak bisa langsung diterjunkan ke lokasi. Jalan sempit, terjal, dan tertutup tanah serta bebatuan membuat penanganan longsor terhambat sejak hari pertama bencana.
Untuk mengatasi kondisi darurat ini, pemerintah kabupaten memutuskan mengirim alat-alat sederhana seperti sekop, cangkul, dan selang air sebagai alat bantu utama warga dalam menggali, mengangkut, dan membersihkan jalur dari material longsor.
Kami prioritaskan pemberian alat-alat ini karena masyarakat tidak bisa menunggu terus. Mereka harus bisa membuka jalan sendiri sambil menunggu bantuan alat berat masuk,” ujar Kepala BPBD Lebong, Noperman Subhi.
Baca Juga: Bandara Maumere Ditutup Sementara Imbas Erupsi Dasyat Gunung Lewotobi Laki-laki
Warga Terpaksa Jadi Tim Evakuasi Mandiri
Selama terjebak dalam isolasi, warga desa terpaksa menjadi tim evakuasi mandiri. Mereka bekerja secara bergiliran, siang dan malam, mengangkat bongkahan kayu dan batu menggunakan tangan kosong dan alat seadanya. Bantuan alat manual yang baru dikirim ini menjadi angin segar bagi mereka.
Selama ini kami cuma pakai tangan dan peralatan dapur. Baru sekarang dapat cangkul dan sekop.
Akses Masih Terbatas, Evakuasi Dilakukan Bertahap
Meski bantuan sudah mulai masuk, akses menuju desa masih sangat terbatas. Bantuan logistik seperti makanan, obat-obatan, dan kebutuhan bayi dikirim secara estafet menggunakan sepeda motor trail dan bahkan jalan kaki.
Pemerintah setempat menyatakan bahwa tim teknis sedang mengupayakan pengiriman alat berat dari kabupaten tetangga, namun perlu waktu karena medannya ekstrem.
Saat ini kami fokus pada jalur darurat dan evakuasi warga sakit. Alat berat akan masuk jika kondisi memungkinkan,” ujar Camat Pinang Belapis.
Terjebak Longsor Solidaritas Warga Jadi Kunci
Selama masa isolasi, warga menunjukkan solidaritas luar biasa. Mereka saling berbagi bahan makanan, menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, dan bergotong royong tanpa lelah membuka jalur.
Kami sadar tak ada yang bisa membantu kami selain diri sendiri. Tapi kami tetap semangat, karena ini bukan hanya soal bencana, ini soal bertahan hidup bersama,” ujar Ibu Susi, ibu rumah tangga yang ikut menyiapkan logistik dapur umum di desa.
Penutup: Jalan Masih Panjang, Tapi Harapan Tetap Menyala
Bantuan puluhan cangkul, sekop, dan selang mungkin terdengar sederhana, namun di tengah keterisolasian yang mencekam, alat-alat inilah yang kini menjadi simbol perjuangan dan harapan warga Desa Bioa Putiak.
Meski akses masih terbatas dan kondisi belum sepenuhnya pulih, semangat warga untuk bangkit dan bertahan menjadi pelajaran penting tentang ketangguhan masyarakat pedalaman dalam menghadapi bencana alam.






