Dari Kyoto ke Surabaya: Cerita Suami Istri Menjaga Tradisi Matcha di Tanah Air
Gunung Sitoli News – Dari Kyoto ke Surabaya gemerlapnya kehidupan kota Surabaya, ada sepasang suami istri yang mempertahankan dan mengenalkan tradisi Jepang melalui secangkir teh hijau yang khas: matcha. Mereka adalah Tatsuya dan Ayu Nishida, pasangan yang memutuskan untuk membawa warisan budaya teh dari Kyoto, Jepang, dan menanamkannya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di Surabaya. Di tengah tantangan budaya dan jarak geografis, pasangan ini bertekad untuk menjaga dan melestarikan tradisi matcha dengan cara yang autentik, sekaligus memperkenalkan keindahannya kepada masyarakat Indonesia.
Awal Perjalanan: Dari Kyoto ke Surabaya
Tatsuya, yang lahir dan besar di Kyoto, Jepang, memiliki latar belakang keluarga yang telah mempraktikkan budaya teh turun-temurun. Kyoto dikenal sebagai kota pusat tradisi teh Jepang, terutama dalam hal pengolahan matcha, teh hijau bubuk yang digunakan dalam upacara teh Jepang. Sejak kecil, Tatsuya terbiasa dengan aroma khas daun teh yang digiling halus menjadi bubuk, serta ketelitian dalam menyiapkan dan menyajikan teh.
Ayu, istrinya, adalah seorang perempuan asal Surabaya yang bertemu Tatsuya saat bekerja di sebuah perusahaan internasional. Setelah menikah, mereka memutuskan untuk menetap di Surabaya. Meski jauh dari tanah kelahiran Tatsuya, pasangan ini tetap ingin melestarikan tradisi teh matcha yang sangat dihargai dalam budaya Jepang.
“Meskipun kami jauh dari Kyoto, saya ingin memastikan bahwa tradisi keluarga saya tetap hidup, bahkan di Indonesia,” kata Tatsuya. “Matcha bukan hanya teh, tapi juga bagian dari warisan budaya Jepang yang sangat penting bagi kami.”
Baca Juga: Investigasi Sementara Kecelakaan Kereta Spanyol Ada Temuan Rel Retak
Memperkenalkan Matcha kepada Masyarakat Surabaya
Setelah memutuskan untuk menetap di Surabaya, pasangan ini mulai merencanakan untuk membuka sebuah kedai teh kecil yang khusus menyajikan matcha autentik. Mereka ingin mengedukasi masyarakat Surabaya tentang keunikan dan cara menikmati matcha, bukan hanya sebagai minuman, tetapi juga sebagai bagian dari budaya Jepang yang kaya.
Dengan latar belakang Tatsuya yang menguasai teknik-teknik tradisional penyajian teh, mereka mulai menyediakan berbagai produk matcha berkualitas tinggi di kedai mereka. Tidak hanya teh matcha biasa, tetapi mereka juga menawarkan berbagai varian, seperti matcha latte, matcha cake, hingga es krim matcha yang sangat digemari. Semua bahan yang digunakan mereka pastikan berasal dari Jepang, terutama dari Kyoto, untuk menjaga keaslian rasa dan kualitas.
Namun, lebih dari sekadar menjual minuman, Tatsuya dan Ayu juga memfokuskan diri pada edukasi budaya matcha kepada pelanggan mereka. Setiap kali pengunjung datang, mereka akan diberi penjelasan tentang sejarah matcha, cara penyajian yang benar, hingga filosofi di balik setiap langkah dalam upacara teh Jepang. Tatsuya pun sering mengadakan sesi kecil tentang bagaimana menggiling matcha dengan benar dan cara merasakannya dengan penuh kehati-hatian dan kesabaran.
“Matcha adalah bagian dari meditasi, kedamaian, dan keheningan. Tidak hanya soal rasa, tetapi juga prosesnya. Dalam setiap tegukan matcha, ada seni yang harus dipahami,” jelas Tatsuya.
Menjaga Tradisi dengan Sentuhan Modern
Walaupun berpegang pada tradisi, Tatsuya dan Ayu tidak menutup mata terhadap kebutuhan zaman modern. Mereka menyadari bahwa orang-orang di Surabaya, khususnya generasi muda, mungkin belum sepenuhnya mengenal matcha. Oleh karena itu, mereka berinovasi dengan menciptakan berbagai menu yang memadukan cita rasa matcha dengan kuliner lokal Indonesia.
Salah satu contoh inovasi mereka adalah matcha klepon—olahan klepon, kue tradisional Indonesia, yang diisi dengan pasta matcha. Hal ini berhasil menarik perhatian pengunjung yang penasaran dengan perpaduan rasa matcha yang kaya dan manisnya klepon.</p>
Tantangan dalam Menjaga Tradisi Matcha
Tentu saja, perjalanan Tatsuya dan Ayu dalam memperkenalka
“Awalnya banyak yang bingung antara matcha dan teh hijau biasa. Mereka sering kali berpikir matcha itu sama dengan teh hijau yang dijual di supermarket. Padahal matcha adalah teh hijau yang digiling halus dengan cara tradisional dan memiliki proses yang lebih panjang,” ujar Ayu.
Selain itu, keterbatasan bahan baku asli dari Jepang juga menjadi tantangan.
Dari Kyoto ke Surabaya Respons Masyarakat Surabaya
Seiring berjalannya waktu, kedai matcha yang dibuka Tatsuya dan Ayu mulai mendapatkan perhatian yang positif dari masyarakat Surabaya.
Mereka ingin agar tradisi teh Jepang, terutama matcha, dapat dikenali dan dihargai oleh generasi muda di Indonesia.






