Pulang kerja itu biasanya momen paling gue tunggu. Capek sehari di kantor, macet, belum lagi harus mampir beli sayur di pinggir jalan. Sampai rumah, gue pengennya langsung duduk, buka HP sebentar, terus ngobrol sama istri sambil nunggu anak tidur. Tapi minggu lalu, momen itu hampir berubah jadi debat kusir.
Gara-garanya sederhana. Istri gue buka grup WA keluarga, ada yang share tangkapan layar berita soal harga sembako naik drastis. Judulnya ngejreng banget. Dia langsung panik, ngomong soal uang belanja bulan ini bakal jebol. Gue, yang baru baca berita lain di kantor, bilang itu hoaks atau setidaknya belum tentu benar. Eh, dia tersinggung. Katanya gue nggak peka sama kondisi keluarga.
Lima belas menit pertama, kita berdua sama-sama keras kepala. Anak udah lari-lari di depan TV, kita masih adu argumen soal satu tangkapan layar. Lucu kalau dipikir sekarang. Tapi waktu itu beneran tegang.
Kenapa Kabar Heboh Gampang Bikin Rumah Panas
Gue sadar, masalahnya bukan cuma soal berita itu benar atau nggak. Masalahnya, kita berdua punya kebiasaan beda dalam mengonsumsi kabar. Istri gue dapat info dari grup keluarga, yang biasanya diteruskan tanpa dicek dulu. Gue dapat info dari portal berita kantor, yang kadang juga nggak lengkap.
Baca juga: Ombudsman Jateng Buka Suara soal Siswa SMK di Kudus Diduga Diintimidasi Usai Tolak MBG
Dua-duanya sama-sama belum tentu utuh. Tapi kita berdua merasa paling benar. Nah, di situ api mulai nyala.
Buat keluarga kecil di kota besar, kayak gue dan istri, tekanan hidup itu nyata. Harga naik, cicilan jalan terus, biaya sekolah anak nggak pernah turun. Jadi begitu ada kabar yang menyentuh soal duit, reaksi kita otomatis panik. Bukan karena kita nggak pintar, tapi karena kita memang lagi was-was.
Dan sayangnya, justru di kondisi was-was kayak gitu, kita paling gampang termakan kabar yang belum jelas sumbernya. Gue pernah baca riset kecil soal perilaku baca berita, intinya orang lebih cepat percaya kabar yang sesuai sama rasa takutnya. Cocok banget sama yang gue alami.
Kabar heboh itu ibarat bumbu instan. Cepat bikin rasa, tapi belum tentu bikin kenyang.
Cara Gue dan Istri Akhirnya Berhenti Ribut Soal Berita
Setelah kejadian itu, kita ngobrol baik-baik. Bukan cuma soal siapa yang benar, tapi soal gimana caranya kita nggak lagi ribut gara-gara hal kayak gini. Ternyata solusinya nggak ribet. Justru sederhana banget.
1. Bikin "aturan lima menit" sebelum percaya
Setiap kali ada kabar heboh masuk grup atau timeline, kita sepakat nunggu lima menit dulu sebelum bereaksi. Lima menit itu dipakai buat cek satu hal: sumbernya dari mana? Kalau cuma tangkapan layar tanpa link, kita tahan dulu. Kalau dari akun anonim, kita skip. Kalau dari media yang jelas, baru dibaca lebih lanjut.
Kedengarannya sepele, tapi efeknya besar. Lima menit itu cukup buat meredam panik yang biasanya langsung naik ke kepala.
2. Cek bareng, bukan cek sendiri-sendiri
Dulu, gue cek berita sendiri, istri cek sendiri. Hasilnya dua versi yang nggak nyambung. Sekarang, kalau ada kabar yang bikin salah satu dari kita khawatir, kita cek bareng. Buka HP berdua, telusuri sumbernya, baca sampai habis. Kadang sambil ketawa sendiri karena ternyata judulnya jauh dari isi berita.
Ini juga bikin anak kebiasaan lihat orang tuanya baca berita dengan tenang. Lumayan, kan, buat pendidikan literasi dini di rumah.
3. Pisahkan "kabar" dan "keputusan"
Ini yang paling penting menurut gue. Kabar soal harga naik itu satu hal. Keputusan buat mengurangi jajan atau mengatur ulang belanja itu hal lain. Dulu kita campur aduk, jadi tiap kabar langsung jadi keputusan panik. Sekarang, kita kumpulin dulu kabarnya, baru seminggu sekali duduk bareng buat ngatur uang.
Jadi berita nggak lagi jadi pemicu ribut harian, tapi jadi bahan diskusi yang lebih tenang.
Hal Kecil yang Sering Kelewat Saat Baca Kabar
Gue nggak mau sok jadi ahli. Tapi dari pengalaman sendiri, ada beberapa hal kecil yang sering kelewat waktu kita baca kabar, apalagi kalau lagi buru-buru.
- Tanggal berita. Banyak kabar lama yang di-share ulang seolah baru. Gue pernah panik soal aturan baru, ternyata beritanya dua tahun lalu.
- Judul vs isi. Judul yang bikin deg-degan sering nggak sesuai sama isi berita. Baca sampai paragraf ketiga dulu sebelum ambil kesimpulan.
- Sumber pertama. Kalau berita mengutip "kata seorang pejabat", coba cari tahu pejabat mana. Kalau nggak jelas, tahan dulu.
- Foto pendukung. Foto lama sering dipakai ulang buat berita baru. Cek apakah fotonya memang sesuai kejadian.
Nggak perlu jadi detektif. Cukup biasakan diri buat berhenti sejenak dan tanya: ini beneran kabar baru, atau cuma bumbu biar rame?
Buat yang Punya Anak Kecil di Rumah
Anak gue masih kecil, belum bisa baca berita. Tapi dia lihat semuanya. Waktu gue dan istri debat kusir soal tangkapan layar itu, dia ikut diam dan lihatin kita. Momen itu bikin gue sadar, cara kita menyikapi kabar itu contoh buat dia.
Kalau kita gampang panik karena satu tangkapan layar, anak bakal belajar hal yang sama. Kalau kita tenang, cek dulu, baru ngomong, dia juga bakal lihat itu sebagai hal biasa. Jadi sekarang, setiap ada kabar heboh, kita sengaja ngomong pelan-pelan di depan anak. Kadang sambil bercanda, "Ini beneran apa cuma kabar angin, ya?"
Nggak ada yang instan. Kadang masih ada rasa panik yang muncul duluan. Tapi setidaknya sekarang kita punya rem yang sama. Nggak lagi debat kusir gara-gara satu tangkapan layar di grup keluarga.
Kalau kamu juga sering ribut kecil sama pasangan gara-gara kabar di HP, coba deh mulai dari aturan lima menit itu. Sederhana, murah, dan lumayan menyelamatkan makan malam keluarga.