Gue punya tetangga namanya Pak Darto, pensiunan guru SMP. Setiap pagi rutinitasnya sama: buka grup WhatsApp alumni, baca pesan berantai, lalu lanjut buka YouTube nonton berita. Masalahnya, hampir tiap minggu dia nelpon gue dengan nada panik. "Le, bener nggak sih pemerintah mau bekukan rekening pensiunan?" Awalnya gue jawab sabar. Lama-lama gue sadar, yang bikin Pak Darto panik bukan beritanya, tapi mitos-mitos lama soal cara membaca berita yang masih dia pegang.
Nah, tulisan ini buat kamu yang mungkin sepantaran Pak Darto, atau buat anak-anak yang ortunya begini. Kita bongkar bareng mitos populer soal berita yang ternyata keliru, khususnya yang sering nyangkut di kepala para pensiunan.
Baca juga: KPK Usut Alasan Swasta Berikan Uang ke Bupati Bekasi Ade Kuswara
Mitos 1: "Kalau Sudah Diteruskan Banyak Orang, Berarti Benar"
Ini mitos paling bandel. Logikanya kira-kira begini: kalau satu pesan sudah diteruskan ke lima grup dan dibaca ratusan orang, pasti ada benarnya. Padahal justru sebaliknya. Semakin sering diteruskan, semakin susah dilacak dari mana asalnya.
Gue pernah iseng ngecek satu pesan berantai soal "subsidi pensiunan akan dipotong mulai bulan depan". Ternyata setelah ditelusuri, sumbernya cuma status Facebook seseorang yang nulis spekulasi, lalu dikutip blog abal-abal, lalu masuk grup WA. Nggak ada satu pun pejabat atau instansi resmi yang ngomong begitu. Tapi karena sudah lewat 20 grup, pesan itu terasa seperti kebenaran.
Ingat ya: di dunia berita, jumlah orang yang meneruskan bukan bukti. Bukti itu ada di sumbernya. Kalau pesan berantai nggak nyebut sumber jelas, anggap saja belum ada kabar.
Mitos 2: "Berita di TV Pasti Lebih Akurat daripada di HP"
Banyak pensiunan percaya televisi itu paling terpercaya, sementara berita di HP dianggap "mainan anak muda". Sebenarnya nggak sesederhana itu.
Televisi punya batas waktu. Berita jam 7 malam cuma punya 30 menit untuk membahas banyak hal, jadi sering kali yang ditampilkan cuma potongan paling dramatis. Sementara itu, di HP, kamu bisa membaca versi lengkap dari media yang sama. Masalahnya, di HP juga banyak sumber nggak jelas yang tampilannya mirip media besar.
Jadi bukan soal TV atau HP. Yang menentukan akurat atau tidak adalah siapa yang menulis dan apakah bisa dicek ulang. Media kredibel, baik di layar kaca maupun di layar HP, selalu mencantumkan sumber dan tanggal. Kalau nggak ada, curiga.
Cara cepat cek di rumah
- Buka Google, ketik judul beritanya, lihat apakah muncul di media lain yang dikenal.
- Cek tanggalnya. Banyak kabar "heboh" yang ternyata berita lama, diputar ulang.
- Lihat fotonya. Kadang foto bencana di luar negeri dipakai untuk berita dalam negeri.
Mitos 3: "Berita yang Bikin Tenang Itu Berarti Palsu, yang Bikin Panik Itu Jujur"
Ini yang paling berbahaya, dan sering nempel di generasi pensiunan. Ada anggapan bahwa kabar buruk itu tanda "media jujur", sementara kabar baik dicurigai sebagai pencitraan.
Padahal penyebar hoaks justru pintar memainkan emosi. Mereka tahu kabar yang bikin panik lebih cepat diteruskan. Jadi mereka sengaja bikin judul yang bikin jantung berdebar: "Pensiunan Akan Kehilangan Hak Ini!", "Mulai Besok Rekening Dibekukan!".
Kabar yang bikin kamu panik dalam 5 detik biasanya dirancang untuk bikin kamu buru-buru meneruskan, bukan untuk bikin kamu paham.
Gue selalu ingatkan Pak Darto: kalau baca sesuatu dan langsung pengen teriak atau langsung pengen kirim ke grup, justru itu saatnya berhenti dulu. Tunggu satu jam. Cari versi lain. Biasanya setelah itu ketahuan, ternyata cuma judul yang dibesar-besarkan.
Mitos 4: "Pensiunan Nggak Perlu Belajar Literasi Digital"
Ini mitos yang menurut gue paling nggak adil. Sering ada anggapan bahwa urusan cek fakta itu tugas anak muda, sementara pensiunan cukup terima jadi.
Padahal justru kelompok pensiunan yang paling sering jadi sasaran. Waktu luangnya banyak, grup WA-nya banyak, dan kadang rasa percaya pada sesama teman lama itu tinggi sekali. Kombinasi ini bikin kabar palsu gampang masuk.
Belajar literasi digital nggak harus lewat kursus. Cukup biasakan tiga hal: tanya sumbernya, cek tanggalnya, dan jangan buru-buru meneruskan. Itu sudah cukup untuk menyaring 80 persen kabar sampah yang masuk grup.
Gue sendiri kadang masih kena tipu, kok. Pernah gue hampir percaya satu berita soal aturan baru, ternyata itu artikel lama dari tahun 2019 yang diputar ulang. Sejak itu gue biasakan buka dua sumber sebelum percaya. Nggak ribet, cuma butuh dua menit.
Jadi buat kamu yang sudah pensiun, atau yang punya orang tua pensiunan: jangan remehkan kekuatan kebiasaan kecil ini. Satu kali cek sumber bisa menyelamatkan satu grup WA dari kepanikan yang nggak perlu. Dan buat Pak Darto di rumah, gue masih siap-siap ditelepon tiap pagi. Setidaknya sekarang dia mulai tanya dulu sebelum meneruskan.