Selasa, 27 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
cross-beat.comcross-beat.com
cross-beat.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Nonton TV Sambil Masak Picu Salah Paham, Begini Ca...

Nonton TV Sambil Masak Picu Salah Paham, Begini Cara Cek Beritanya

Pengalaman pribadi seorang ibu rumah tangga yang hampir percaya berita bohong karena nonton TV sambil masak. Ini cara simpel cek fakta.

Nonton TV Sambil Masak Picu Salah Paham, Begini Cara Cek Beritanya

Gue masih inget banget kejadian itu. Waktu itu hari Selasa, jam empat sore, gue lagi sibuk di dapur nyiapin makan malam. Anak-anak udah mulai rewel, suami belum pulang, dan TV di ruang tengah nyala nyiarin program berita. Sambil motong bawang, gue denger pembawa acara bilang sesuatu soal "bahan makanan yang katanya berbahaya". Telinga gue langsung panas. Tangan gue berhenti motong. Dalam hati udah kepikiran macem-macem.

Padahal, kalau dipikir-pikir sekarang, gue cuma denger sepenggal. Nggak lihat grafisnya, nggak denger narasumbernya siapa, nggak tahu konteksnya apa. Tapi karena lagi panik dan buru-buru, otak gue langsung nyambung ke hal-hal yang bikin tambah takut. Besoknya gue udah nyebarin info itu ke grup WA keluarga. Dan... ya, kalian bisa nebak kelanjutannya.

Baca juga: Santri Diminta Ambil Peran Nyata Bangun Bangsa, Bukan Sekadar Penonton

Denger Setengah, Panik Satu RT

Ternyata info yang gue sebar itu nggak lengkap. Ada tetangga yang lebih teliti, dia cek ulang ke situs resmi dan ternyata beritanya udah diklarifikasi. Konteksnya beda jauh dari yang gue tangkap. Gue malu banget waktu itu. Bukan cuma malu sama tetangga, tapi malu sama diri sendiri. Kok bisa ya, ibu-ibu yang katanya udah dewasa malah kecolongan begini.

Dari situ gue sadar satu hal: masalahnya bukan cuma berita palsunya. Masalahnya juga cara gue mengonsumsi berita. Nonton TV sambil multitasking, dengerin radio sambil nyetrika, baca headline sambil nungguin anak mandi — semua itu bikin gue cuma nangkep potongan-potongan informasi. Dan potongan informasi yang nggak utuh itu justru lebih berbahaya daripada nggak tahu sama sekali.

Berita setengah matang itu kayak sayur yang belum dimasak sampai empuk: kelihatannya udah jadi, tapi bikin perut mules.

Gue nggak sendiri kok. Beberapa teman sesama ibu rumah tangga cerita hal serupa. Ada yang sempat panik beli barang tertentu karena denger berita soal kelangkaan. Ada juga yang hampir nggak ngizinin anaknya ikut kegiatan sekolah gara-gara berita yang ternyata hoaks. Pola nya mirip: kita ini sibuk, jadi berita cuma jadi "suara latar" di sela-sela pekerjaan rumah.

Pelajaran yang Gue Ambil Sendiri

Setelah kejadian itu, gue mulai ngubah kebiasaan. Nggak dramatic-dramatis amat sih, tapi lumayan ngaruh. Ini beberapa hal yang gue lakuin sampai sekarang:

  • Berhenti sebentar kalau denger berita "mengejutkan". Kalau lagi masak atau nyuci, gue matiin dulu kompornya atau berhentiin tangan gue. Dengerin sampai selesai. Kalau nggak sempat, ya sudah, nanti cari ulang di internet.
  • Cek sumbernya dulu sebelum share. Sekarang gue selalu tanya: ini dari media apa? Ada tanggalnya? Ada nama narasumbernya? Kalau cuma gambar tangkapan layar tanpa konteks, gue skip.
  • Nggak buru-buru sebar ke grup keluarga. Ini yang paling berat, karena kadang niatnya baik, pengen ngasih tahu. Tapi niat baik doang nggak cukup kalau infonya salah.
  • Baca sampai selesai, bukan cuma judul. Judul berita itu kadang dibikin "menggoda" biar orang klik. Isinya belum tentu seheboh itu.

Yang paling penting sih sebenarnya poin pertama. Karena begitu gue berhenti multitasking saat denger berita, gue jadi lebih gampang nangkep konteksnya. Nggak gampang kebawa emosi. Dan yang lebih penting lagi, gue jadi nggak gampang panik.

Kenapa Ibu Rumah Tangga Rentan Kena Hoaks Berita

Gue nggak mau nyalahin diri sendiri atau teman-teman semua. Tapi realistis aja, kita ini kelompok yang paling sering jadi "penerima pertama" informasi di rumah. Kita yang pegang grup WA keluarga, grup arisan, grup sekolah anak. Kita juga yang sering jadi rujukan pertama kalau ada apa-apa. Jadi wajar kalau kita rentan.

Belum lagi waktu kita terpecah-pecah. Nggak kayak orang kantoran yang bisa fokus baca berita di meja kerja, kita ini multitasking sepanjang hari. Dari bangun sampai tidur lagi, tangan dan otak nggak pernah benar-benar berhenti. Jadi wajar kalau berita cuma jadi selipan, bukan fokus utama.

Masalahnya, berita itu nggak bisa dikonsumsi setengah-setengah. Apalagi berita yang sifatnya sensitif, kayak soal kesehatan, keamanan, atau harga barang. Salah tangkap sedikit aja, efeknya bisa panjang. Bisa jadi kita beli barang yang nggak perlu, atau malah nyebarin kepanikan ke orang lain.

Cara Simpel Cek Berita Sebelum Percaya

Gue bukan ahli media atau jurnalis. Tapi dari pengalaman, ada beberapa langkah simpel yang bisa kita lakuin sebagai ibu rumah tangga biasa:

  • Cari berita yang sama di media lain. Kalau berita itu beneran penting, media lain pasti juga ngasih kabar. Kalau cuma satu sumber yang ngomong dan sumbernya nggak jelas, curiga dulu.
  • Buka situs cek fakta. Ada beberapa situs resmi yang khusus ngecek hoaks. Tinggal ketik topiknya, biasanya udah ada penjelasannya.
  • Tanya ke orang yang lebih paham. Kadang suami, saudara, atau teman yang kerja di bidang terkait bisa kasih perspektif. Nggak ada salahnya nanya.
  • Beri jeda 1×24 jam sebelum sebar. Kalau berita itu beneran penting, nunggu sehari nggak bikin dunia kiamat. Justru dengan nunggu, kita bisa lebih tenang mikir.

Gue udah ngalamin sendiri gimana rasanya jadi orang yang nyebarin info salah. Nggak enak. Tapi dari situ gue belajar bahwa jadi ibu rumah tangga bukan berarti kita nggak bisa jadi konsumen berita yang cermat. Justru karena kita yang pegang informasi di rumah, kita punya tanggung jawab lebih besar buat memastikan apa yang kita sebarkan itu benar.

Jadi mulai sekarang, kalau lagi masak sambil nonton TV dan denger berita yang bikin kaget, coba deh berhenti sebentar. Dengerin sampai selesai. Cek dulu. Baru deh dipikirin mau dishare atau nggak. Dapur bisa nunggu, tapi kepanikan yang udah nyebar susah ditarik balik.

Tags: berita palsu ibu rumah tangga literasi media cek fakta pengalaman pribadi