Lo pernah nggak sih, jam 11 malam, lagi rebahan di kasur kos yang spring bed-nya udah bunyi kriuk-kriuk, terus tiba-tiba kebangun gara-gara notif berita? Scroll bentar, eh 40 menit kemudian lo masih nempel di layar HP, dada udah sesak, padahal besok pagi ada kelas jam 8. Kalau iya, selamat datang di klub. Kita banyak.
Yang jarang dibahas soal berita itu bukan soal mana yang hoaks atau mana yang valid. Itu udah ribuan artikel ngebahas. Yang jarang dibahas adalah gimana caranya kita, anak rantau yang jauh dari rumah, dari orang tua, dari teman SMA, tetap bisa konsumsi berita tanpa hancur pelan-pelan. Karena jujur ya, buat kita, berita itu bukan cuma informasi. Kadang dia jadi pengganti pelukan ibu. Kadang jadi teman begadang. Kadang jadi sumber overthinking yang nggak ada habisnya.
Kenapa anak kos rentan kena "mabuk berita"
Gue ngerasain sendiri waktu semester tiga. Tinggal di kos 3x4 meter, jendela ngadep tembok, dan satu-satunya jendela ke dunia ya HP. Setiap ada berita bencana di daerah gue, gue langsung cek grup keluarga. Kalau belum dibales, gue udah bayangin yang aneh-aneh. Padahal mungkin mereka cuma ketiduran.
Baca juga: Putusan Banding PT Medan Perberat Vonis Seumur Hidup Jadi Hukuman Mati untuk 3 Kurir 151 Kg Ganja
Nah, ini yang sering kelewat. Mahasiswa rantau itu punya jarak fisik dari rumah, tapi nggak punya jarak emosional. Jadi setiap berita yang nyerempet kampung halaman, rasanya kayak langsung kena ke dada. Beda sama orang yang tinggal bareng keluarga, mereka bisa langsung nanya, bisa langsung lihat kondisinya. Kita? Cuma bisa nebak dari potongan video 15 detik yang di-repost akun gosip.
Belum lagi masalah waktu. Kuliah pagi, kerja part-time sore, ngerjain tugas sampai tengah malam. Berita jadi satu-satunya "hiburan" yang gampang diakses sambil rebahan. Padahal isinya belum tentu bikin tenang.
Berita itu kayak jendela. Masalahnya, kalau semua dinding kos lo isinya jendela, lo bakal lupa cara duduk tenang di dalam ruangan.
Yang nggak diajarin di kelas: baca berita itu butuh "jam operasional"
Ini yang gue pelajari dengan susah payah. Baca berita itu nggak bisa 24 jam. Bukan karena beritanya salah, tapi karena kepala kita yang nggak kuat.
Coba deh, tentuin jam berita. Misalnya jam 7 pagi sambil sarapan, dan jam 8 malam setelah mandi. Di luar jam itu, notifikasi dimatiin. Serius, ini simpel tapi efeknya gede banget. Gue dulu seminggu pertama ngerasa gelisah, kayak takut ketinggalan sesuatu. Tapi lama-lama sadar, dunia nggak kiamat cuma karena gue nggak tahu ada apa di timeline selama 3 jam.
Yang lebih parah, banyak dari kita baca berita sambil setengah tidur. Jam 1 pagi, mata udah perih, tapi tangan masih scroll. Otak lagi nggak bisa mikir jernih, jadi semua berita rasanya ancaman. Besok paginya bangun, badan pegel, mood jelek, dan kita salahkan beritanya. Padahal masalahnya jamnya.
Coba trik "satu berita, satu aksi"
Ini trik yang gue pakai dan lumayan ngebantu. Setiap kali baca satu berita yang bikin lo kepikiran, wajib lakuin satu hal kecil. Misalnya baca berita banjir di daerah lo, langsung telepon ibu. Baca berita soal beasiswa, langsung cek syaratnya. Baca berita politik yang bikin emosi, langsung tutup HP dan cuci piring.
Intinya, jangan biarin berita cuma numpuk di kepala jadi kecemasan. Kasih dia "jalan keluar" berupa tindakan kecil. Kalau nggak ada tindakan yang bisa lo lakuin, ya berarti berita itu bukan buat lo hari ini. Simpel.
Grup keluarga itu medan perang informasi paling rawan
Nah, ini nih yang paling jarang dibahas. Buat anak rantau, grup WhatsApp keluarga itu campuran antara rindu dan mimpi buruk. Isinya kadang foto ponakan, kadang link berita yang judulnya bikin jantung copot.
Gue pernah ditelepon ibu jam 5 pagi gara-gara beliau baca berita "gempa besar akan mengguncang Jawa". Gue panik, gue cek BMKG, ternyata itu berita lama yang diputar ulang sama akun-akun receh. Ibu jadi malu, gue jadi nggak bisa tidur lagi. Sejak itu gue sadar, tugas kita bukan cuma jaga diri sendiri dari hoaks, tapi juga jaga keluarga di rumah.
Caranya? Jadi "filter" buat mereka. Kalau ada berita aneh di grup, jangan diem aja. Balas santai, kirim link dari sumber resmi, atau tanya baik-baik "ini dari mana Bu sumbernya?". Nggak usah ngajarin pakai nada dosen, nanti malah dikira ngebantah. Cukup jadi orang yang selalu ngecek dulu sebelum ikut panik.
- Selalu cek tanggal berita sebelum nerusin ke siapa pun. Banyak berita lama yang didaur ulang.
- Cari minimal dua sumber sebelum percaya. Kalau cuma satu akun anonim, tahan dulu jempolnya.
- Jangan share berita yang bikin lo emosi dalam 10 menit pertama. Emosi itu tanda lo belum bisa mikir jernih.
- Simpan nomor darurat daerah lo dan keluarga, biar nggak panik duluan sebelum cek fakta.
Berita itu bukan cermin, dia cuma potongan
Yang terakhir dan mungkin paling penting: kita sering lupa kalau berita itu potongan, bukan gambaran utuh. Satu berita kriminal di kota lo nggak berarti kota lo jadi sarang kejahatan. Satu berita soal mahasiswa yang gagal nggak berarti lo juga bakal gagal.
Gue inget waktu ada berita soal mahasiswa rantau yang depresi karena kesepian. Gue baca sambil nangis, karena relate banget. Tapi besoknya gue sadar, berita itu nggak ngasih gue solusi apa-apa selain rasa takut. Yang akhirnya bikin gue baikan ya bukan beritanya, tapi gue yang akhirnya nelepon teman dan minta ditemenin makan bakso.
Jadi buat lo yang lagi di kos, jauh dari rumah, dan ngerasa dunia makin ribut tiap hari: berita itu penting, tapi lo lebih penting. Nggak apa-apa kok ketinggalan satu dua update. Nggak apa-apa matiin notifikasi. Nggak apa-apa pura-pura nggak lihat grup keluarga selama satu jam. Yang nggak boleh itu, lo biarin berita ngatur mood lo seharian, sementara hidup lo sendiri di kos cuma jadi latar belakang.
Baca berita secukupnya, telpon ibu sesering mungkin, dan kalau kepala udah penuh, matiin HP, buka jendela kos (kalau ada), dan hirup udara. Dunia nggak akan hilang cuma karena lo istirahat sebentar.