Gue masih inget banget malam itu. Jam sebelas, lagi rebahan di kasur kos sambil scroll HP, tiba-tiba grup WA angkatan ramai. Ada yang share screenshot berita judulnya ngeri: "BMKG Peringatkan Gempa Besar Bakal Guncang Pulau Jawa Malam Ini." Langsung deh, satu angkatan panik. Ada yang udah packing tas, ada yang nelpon ortu sambil nangis. Padahal besok pagi masih ada kelas jam tujuh.
Eh, ternyata besoknya? Aman-aman aja. Berita itu hasil suntingan dari peringatan lama yang diangkat lagi. Klasik banget. Dan dari kejadian itu gue sadar, banyak mitos soal berita yang kita telan mentah-mentah, terutama kita-kita yang jauh dari rumah dan nggak punya siapa-siapa buat sekadar nanya "ini beneran nggak sih?"
Nah, ini empat mitos yang paling sering gue temuin di kalangan mahasiswa rantau. Kalau kamu pernah percaya salah satunya, tenang, kamu nggak sendirian.
Mitos 1: "Kalau Udah Dikirim di Grup Keluarga, Berarti Bener"
Ini mitos paling awet. Logikanya kira-kira begini: kalau Om Budi yang notabene dosen ngirim, berarti valid dong. Padahal Om Budi juga manusia yang bisa kena tipu. Justru grup keluarga sering jadi jalur cepat buat berita lama yang didaur ulang.
Baca juga: Bandara Madinah Akan Sambut Jemaah Haji Aturan Bagasi Beda dari Tahun Lalu
Gue pernah ditelepon Mama tengah malam gara-gara beliau baca broadcast soal "vaksin mengandung chip". Gue jelasin panjang lebar, eh besoknya beliau kirim lagi broadcast soal "minum air hangat bunuh virus". Ya gimana, beliau kan sayang gue. Niatnya baik, cuma sumbernya nggak dicek.
Yang perlu kamu ingat: pengirim yang kamu percaya belum tentu sumber yang bisa dipercaya. Cek dulu medianya. Kalau cuma screenshot tanpa link, atau link-nya situs yang namanya nggak pernah kamu dengar, tahan dulu jempol kamu.
Mitos 2: "Berita Viral Pasti Beneran, Kan Banyak yang Nge-share"
Ini yang bikin gue geleng-geleng. Viral itu soal seberapa cepat orang nge-share, bukan soal seberapa akurat isinya. Justru berita yang bikin emosi — marah, takut, sedih — paling cepat nyebar. Algoritma suka itu. Kita juga.
Coba inget lagi kasus yang sempat heboh di timeline kamu. Berapa banyak yang ternyata cuma potongan video tanpa konteks? Atau tangkapan layar yang judulnya udah diubah total? Banyak, kan?
Viral itu ukuran kecepatan, bukan ukuran kebenaran. Dua hal yang beda banget.
Gue sendiri pernah hampir ikut share video "demo mahasiswa" yang ternyata footage dari negara lain. Untung ada temen yang komentar "ini dari Filipina, bro, cek watermark-nya." Sejak itu gue selalu cek dua kali sebelum share apa pun yang bikin dada berdebar.
Mitos 3: "Baca Satu Berita Aja Cukup, Yang Penting Udah Tahu"
Ini mitos yang paling halus dan paling berbahaya. Bukan karena kamu malas, tapi karena kamu merasa udah cukup informasi. Padahal satu berita itu cuma satu sudut pandang, satu framing, satu potongan cerita.
Bayangin kamu baca satu artikel yang bilang "harga kos naik 30 persen karena pemilik serakah." Terus kamu udah kesel setengah mati. Coba baca satu artikel lain dari media berbeda, mungkin ceritanya soal kenaikan pajak daerah atau biaya operasional. Bisa jadi dua-duanya ada benarnya, bisa jadi dua-duanya nggak lengkap.
Cara gampangnya buat mahasiswa rantau
Kamu nggak perlu langganan lima media berbayar. Cukup:
- Cek satu media nasional yang kredibel, satu media lokal di kota kamu kuliah
- Kalau berita soal kebijakan kampus, langsung cari pengumuman resmi kampusnya
- Kalau soal bencana atau cuaca, buka situs BMKG atau BNPB langsung, bukan screenshot
- Kalau ragu, tanya temen satu kos yang hobinya baca berita — mereka biasanya udah paham konteksnya
Simpel kan? Nggak perlu jadi jurnalis dadakan. Cukup jadi pembaca yang nggak buru-buru percaya.
Mitos 4: "Berita Itu Nggak Ngaruh ke Hidup Gue Sehari-hari"
Justru ini yang paling keliru. Buat kita yang ngerantau, berita itu sering jadi penentu keputusan kecil yang dampaknya besar. Ada demo di jalan yang mau kamu lewatin? Ada kenaikan tarif transportasi? Ada perubahan jadwal KRL? Semua itu masuk berita.
Gue pernah bolos satu info penting soal penutupan jalan karena ada acara, ujung-ujungnya telat dua jam ke kelas dan kena tegur dosen. Sejak itu gue sadar: berita bukan cuma konsumsi orang tua sambil ngopi. Buat mahasiswa rantau, berita itu semacam peta jalan hidup sehari-hari.
Dan yang lebih penting lagi, berita soal kampung halaman kamu juga nggak boleh dilewatkan. Banjir di daerah asal, perubahan kebijakan daerah, apa pun. Kadang kita terlalu sibuk ngurusin kampus sampai lupa mantau kabar dari rumah. Padahal orang tua kita di sana mungkin butuh kita yang lebih melek informasi.
Jadi, Gimana Mulainya?
Nggak perlu revolusi. Mulai dari kebiasaan kecil: sebelum share, tanya diri sendiri tiga hal. Sumbernya dari mana? Ada media lain yang ngasih cerita sama? Ini bikin panik atau bikin paham?
Kalau jawabannya ragu, ya jangan share dulu. Nggak ada yang memaksa kamu jadi orang pertama yang nyebar kabar. Kadang jadi orang yang diam dan cek dulu itu jauh lebih berguna, apalagi buat temen-temen satu kos yang mungkin ikut panik gara-gara kiriman kamu.
Gue sendiri masih sering salah kok. Masih suka kena tipu judul clickbait. Tapi setidaknya sekarang gue udah nggak langsung nelpon Mama sambil nangis gara-gara screenshot grup WA. Itu udah kemajuan, kan?
Jadi, mulai malam ini, sebelum kamu rebahan dan scroll HP lagi, coba ingat empat mitos tadi. Siapa tahu berita heboh berikutnya di grup angkatan kamu bisa kamu saring sendiri, tanpa perlu bikin satu angkatan panik tengah malam.