Sabtu, 31 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
cross-beat.comcross-beat.com
cross-beat.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Anak Bertanya Soal Banjir di TV: Cara Kami Sekelua...

Anak Bertanya Soal Banjir di TV: Cara Kami Sekeluarga Menyaring Kabar

Anak saya bertanya soal berita banjir yang bikin takut. Dari situ kami belajar menyaring kabar bersama di rumah.

Anak Bertanya Soal Banjir di TV: Cara Kami Sekeluarga Menyaring Kabar

Malam itu saya lagi lipat cucian di ruang tengah, sementara TV nyala sebagai suara latar. Tiba-tiba si kecil, yang baru kelas dua SD, nunjuk layar dan nanya dengan mata bulat: "Pa, banjirnya sampai rumah kita nggak?"

Saya kaget. Di layar, sedang diputar rekaman banjir besar di suatu kota. Narasinya tegang, gambarnya dramatis, dan tanpa sadar anak saya sudah nonton beberapa menit. Dia bukan cuma lihat — dia sudah memikirkan kemungkinan terburuk untuk keluarganya sendiri.

Baca juga: Diamankan di Lanal Mataram Benda Mirip Torpedo dari Gili Trawangan Akan Diperiksa TNI AL

Malam itu saya sadar satu hal: di rumah kami, berita itu bukan cuma konsumsi orang dewasa. Anak-anak ikut nyerap, ikut cemas, dan sering salah paham.

Kejadian itu bikin kami ubah kebiasaan

Sebelum malam itu, TV di rumah kami nyala hampir terus. Pagi sebelum berangkat kerja, siang kalau ada yang WFH, malam sambil main HP. Berita jadi semacam background noise yang nggak pernah benar-benar kami perhatikan, tapi selalu ada.

Masalahnya, anak-anak juga mendengar semuanya. Dan mereka nggak punya filter. Kalau di TV bilang "waspada banjir", di kepala anak saya langsung jadi "rumah kita bakal kebanjiran". Kalau ada berita kecelakaan, dia langsung mikirin bapaknya yang lagi di jalan.

Istri saya yang akhirnya ngusul: "Gimana kalau kita nonton berita bareng aja, terus kita bahas?"

Simpel, tapi ternyata ngaruh banget.

Yang kami lakukan supaya nggak panik sendiri-sendiri

Kami mulai bikin aturan kecil di rumah. Nggak ribet, nggak pakai aplikasi mahal, cuma kesepakatan yang kami tempel di pintu kulkas pakai magnet.

  • Nonton berita bareng, bukan sendiri-sendiri. Minimal sekali sehari, biasanya habis makan malam. Kami pilih satu atau dua berita yang memang relevan buat keluarga, bukan semua yang muncul di layar.
  • Tanya dulu sebelum percaya. Kalau ada kabar heboh di grup WA keluarga, kami biasakan cek dulu: ini dari mana, tanggalnya kapan, ada sumber resminya nggak. Anak-anak ikut diajari cara ini, dan mereka suka karena merasa dilibatkan.
  • Bahas dengan bahasa yang mereka paham. Kalau ada berita banjir, saya jelaskan: banjirnya di mana, jauh atau dekat, dan kenapa rumah kita relatif aman. Bukan menenangkan dengan "nggak usah takut", tapi menjelaskan alasannya.
  • Batasi layar sebelum tidur. Ini yang paling berat buat saya pribadi. Tapi ternyata berita malam yang bikin cemas itu ikut kebawa ke mimpi anak. Jadi sekarang jam sembilan malam, TV mati.

Yang paling nggak saya duga: anak saya jadi lebih tenang. Bukan karena kami sembunyikan berita, tapi karena dia tahu harus nanya ke siapa kalau ada yang bikin dia takut.

Pelajaran yang saya dapat sebagai orang tua di kota besar

Tinggal di kota besar itu artinya kita kebanjiran informasi, literally dan figuratively. Ada berita soal macet, banjir, kriminal, harga naik, semua masuk ke rumah lewat layar yang sama. Buat orang dewasa saja kadang bikin pusing. Apalagi buat anak yang belum bisa memilah.

Saya jadi ingat waktu kecil dulu. Berita itu datang lewat koran pagi atau radio sore. Ada jeda. Sekarang, kabar bisa masuk ke HP dalam hitungan detik, termasuk ke HP anak yang ikut main game di samping kita.

Jeda itu hilang. Dan menurut saya, tugas kita sebagai orang tua sekarang adalah menciptakan jeda itu kembali — dengan cara kita sendiri.

"Nggak semua yang muncul di layar itu tentang kita. Tapi semua yang kita tonton bareng anak, itu jadi pelajaran buat dia."

Kalimat itu saya tulis sendiri di catatan HP, dan saya baca ulang tiap kali saya tergoda buat nyalain TV berita sambil kerja. Karena nyatanya, anak-anak belajar bukan dari apa yang kita bilang, tapi dari apa yang mereka lihat kita lakukan.

Soal cek fakta, ternyata anak bisa lebih teliti

Suatu hari, si kecil malah yang ngingetin saya. Ada pesan berantai di grup WA soal "air PDAM tercemar", dan dia bilang, "Pa, ini beneran? Cek dulu dong." Saya hampir nggak percaya. Ternyata anak yang dulu nangis gara-gara berita banjir, sekarang jadi orang pertama di rumah yang minta bukti.

Momen itu bikin saya sadar bahwa mengajarkan literasi media ke anak itu bukan proyek sekali jadi. Ini kebiasaan yang harus diulang terus, sampai jadi refleks.

Buat kamu yang punya keluarga kecil di kota

Kalau kamu punya anak kecil dan tinggal di kota besar, mungkin kamu relate sama cerita saya. Berita itu nggak bisa kita hindari, tapi bisa kita kelola. Nggak perlu jadi ahli media atau pasang aplikasi canggih. Cukup mulai dari satu kebiasaan: nonton bareng, tanya bareng, bahas bareng.

Dan jangan lupa, kita juga manusia yang bisa panik. Kadang saya masih kelepasan heboh sendiri gara-gara baca judul berita yang ternyata hoax. Istri saya cuma ketawa dan bilang, "Nah, kan."

Tapi justru dari situ anak-anak belajar bahwa orang dewasa pun bisa salah, dan yang penting adalah cara kita memperbaikinya. Bukan soal selalu benar, tapi soal selalu mau cek ulang.

Malam-malam sekarang, TV di rumah kami masih nyala. Tapi bukan buat nonton berita sendirian. Biasanya kami duduk bareng, si kecil bawa buku gambarnya, dan kadang dia nanya lagi soal berita yang dia dengar di sekolah. Dan kali ini, saya nggak kaget lagi. Saya cuma bilang, "Yuk, kita cek bareng."

Tags: berita literasi media keluarga anak kota besar